Anak membantu sesama anak

9 Jan
2010

Amara belakangan ini aktif mengikuti banyak kegiatan dengan komunitas Jerman di Budapest. Yang paling heboh ya drama Natal lalu di gereja berbahasa Jerman, memerankan Maria (kata Amara: aku jadi Maria, ibunya Yesus). Saya bilang heboh karena latihan tiap Sabtu pagi pas cuaca sedang dingin-dinginnya saat itu. Saya sebetulnya sudah males aja bangun dan keluar rumah mengantar latihan tapi melihat semangat Amara yang menyala jadinya berangkat juga. Lucunya kita satu-satunya yang non bule tapi selalu yang paling tepat waktu. Saya rasa orang Jerman yang sudah lama di sini ikut ketularan jam karet, untung sampai sekarang kita belum ketularan.

Buntut dari drama Natal berlanjut dengan ajakan untuk ikut koor Sternsinger. Misi Anak Sternsinger ini adalah proyek bantuan anak yang dibentuk oleh gereja Katolik di Jerman. Tiga raja yang dimaksud adalah tiga raja bijak/majus  dari timur yang mengikuti bintang terang sampai menemukan Yesus. Di Jerman setiap tanggal 6 Januari dirayakan sebagai hari raya tiga raja. Sejak sekitar abad ke-16 di Belanda, Belgia dan di Jerman ada tradisi pada hari tersebut orang memakai kostum tiga raja kemudian pergi dari rumah ke rumah menceritakan kabar kelahiran Yesus dan mendapatkan makanan atau uang untuk itu. Tradisi ini sempat hampir hilang, baru di abad ke-20 mulai hidup lagi. Sejak tahun 1959 Misi Anak Sternsinger mengorganisir aksi ‘Tiga raja menyanyi’ dengan tujuan dana yang dikumpulkan dipakai untuk membantu anak-anak terlantar di Asia, Afrika, Eropa Timur, dll. Tahun ini dana akan dikonsentrasikan ke Senegal untuk membantu pembangunan sekolah di sana. Terus terang, baru sekarang saya benar-benar memperhatikan hal ini. Walaupun kalau tidak salah ingat tiap tahun Pak Parera di Frankfurt rasanya sempat mengumumkan hal ini (maaf ya Pak gak nyimak sayanya hehehe).

Aksi tiga raja menyanyi bisa ditebak dari judulnya adalah anak-anak menyanyi dan berpuisi, kemudian memberkati rumah yang dihampirin dengan menulis di pintu rumah memakai kapur lambang 20*C+M+B+10. Artinya yaitu 20 sebagai singkatan tahun (sekarang th 2000 an) kemudian bintang sebagai simbol bintang timur yang diikuti oleh tiga raja tersebut, C+M+B berasal dari bahasa Latin „Christus Mansionem Benedicat“yang artinya Kristus memberkati rumah ini dan 10 dibelakang untuk tahun 2010. Selama ini saya pikir CMB itu singkatan nama raja Caspar, Melchior dan Balthasar…walah ketahuan deh saya …salah kasih informasi ke Amara :)

Di Budapest ternyata sudah menjadi tradisi Sternsinger dari komunitas gereja Jerman untuk mengumpulkan dana di kedutaan yang berbahasa Jerman (Austria, Jerman dan Swiss). Betul juga sih seandainya dari rumah ke rumah orang Hungaria bisa bingung kali, karena tidak ada tradisi seperti itu di sini. Walaupun ini tradisi Katolik, tapi proyek di Budapest ini bekerja sama dengan gereja Protestan.

Tahun ini hanya bisa ke kedutaan Austria dan Jerman berhubung waktunya tidak pas. Saya juga usul sebaiknya satu hari saja kelilingnya karena anak-anak kan sekolah. Ini juga mereka bolos pulang lebih pagi. Kali ini akhirnya hanya tiga anak yang ikut, tadinya berempat tapi anak yang ke empat ngambek karena dia paling kecil dan belum bisa membaca. Akhirnya Amara yang tadinya pegang bintang, sekalian jadi raja Melchior. Tidak seperti drama Natal yang harus menghafal, kali ini untungnya boleh sambil baca teks karena hanya sempat latihan dua kali sore-sore sepulang sekolah. Acara berjalan lancar, dua kedutaan dan dubesnya betul-betul ramah, anak-anak diajak ngobrol dan dijamu minuman dan kue-kue. Dan yang penting para staff kedutaan juga tidak pelit menyumbang.

Buat saya pribadi menarik melihat anak-anak semangat latihan karena mau pentas dan juga mereka bangga bisa membantu anak lain. Ini berkat salah satu pembinanya pinter ‘menjual’ ke anak-anak, meceritakan kisah bagaimana awal terbentuknya Sternsinger ini, kemudian bercerita tentang nasib anak-anak di belahan lain yang tidak sebagus mereka serta menekankan bahwa proyek ini adalah dari anak untuk anak, anak membantu anak yang lain. Terharu juga melihat bagaimana seriusnya mereka bertanya bagaimana uang yang mereka kumpulkan bisa sampai ke Senegal. Apakah sampai sana betul untuk membangun sekolah dsb dsb. Kemudian hari Kamis lalu mereka serius sekali menghitung jumlah uang yang terkumpul, mencatat, bangga bisa mengumpulkan uang tidak sedikit dan kemudian menebak-nebak kira-kira uang sekian bisa buat bikin apa saja di Senegal.

Amara lebih heboh lagi, setelah mendengar cerita tentang anak-anak di Senegal mendapat inspirasi untuk tanya teman-teman sekelas apakah mau mengumpulkan dana untuk anak yang lain. Ternyata tidak bisa begitu saja, ibu guru bilang harus minta ijin dulu ke direktur sekolah. Amara berani sendiri ke sekretariat, tanya boleh ketemu direktur atau tidak (biasanya pergi ke direktur identik dengan bakal dapat hukuman makanya anak-anak takut ketemu pak direktur). Untungnya ibu sekretaris baik dan beliau yang memintakan ijin ke pak direktur untuk Amara.

Hmmm ternyata Amara juga seperti mami tidak bisa diam, jiwa organisainya mulai kelihatan :)

2 Responses to Anak membantu sesama anak

Avatar

besti

January 9th, 2010 at 7:50 PM

nah kalo yang itu pasti mirim mamii..gak mungkin mirip tante besti hehehhe tante kasi jempolll ya amaraaa…

Avatar

Vonny Ablett

March 9th, 2010 at 9:57 AM

Wah,. selamat mbak Ayu,..

Jarang sekali anak kecil, mau ikut aktif dalam kegiatan menggereja.

JBU n your fam always mbak..

Salam dari Sydney

Comment Form

top