Anak membantu sesama anak

Amara belakangan ini aktif mengikuti banyak kegiatan dengan komunitas Jerman di Budapest. Yang paling heboh ya drama Natal lalu di gereja berbahasa Jerman, memerankan Maria (kata Amara: aku jadi Maria, ibunya Yesus). Saya bilang heboh karena latihan tiap Sabtu pagi pas cuaca sedang dingin-dinginnya saat itu. Saya sebetulnya sudah males aja bangun dan keluar rumah mengantar latihan tapi melihat semangat Amara yang menyala jadinya berangkat juga. Lucunya kita satu-satunya yang non bule tapi selalu yang paling tepat waktu. Saya rasa orang Jerman yang sudah lama di sini ikut ketularan jam karet, untung sampai sekarang kita belum ketularan.

Buntut dari drama Natal berlanjut dengan ajakan untuk ikut koor Sternsinger. Misi Anak Sternsinger ini adalah proyek bantuan anak yang dibentuk oleh gereja Katolik di Jerman. Tiga raja yang dimaksud adalah tiga raja bijak/majus  dari timur yang mengikuti bintang terang sampai menemukan Yesus. Di Jerman setiap tanggal 6 Januari dirayakan sebagai hari raya tiga raja. Sejak sekitar abad ke-16 di Belanda, Belgia dan di Jerman ada tradisi pada hari tersebut orang memakai kostum tiga raja kemudian pergi dari rumah ke rumah menceritakan kabar kelahiran Yesus dan mendapatkan makanan atau uang untuk itu. Tradisi ini sempat hampir hilang, baru di abad ke-20 mulai hidup lagi. Sejak tahun 1959 Misi Anak Sternsinger mengorganisir aksi ‘Tiga raja menyanyi’ dengan tujuan dana yang dikumpulkan dipakai untuk membantu anak-anak terlantar di Asia, Afrika, Eropa Timur, dll. Tahun ini dana akan dikonsentrasikan ke Senegal untuk membantu pembangunan sekolah di sana. Terus terang, baru sekarang saya benar-benar memperhatikan hal ini. Walaupun kalau tidak salah ingat tiap tahun Pak Parera di Frankfurt rasanya sempat mengumumkan hal ini (maaf ya Pak gak nyimak sayanya hehehe).

Continue reading Anak membantu sesama anak

Gak nyambung Bu Dokter….

Umur saya 17 tahun ketika saya berkunjung ke dokter kandungan untuk pertama kalinya. Di Jerman bukan hanya ibu2 saja yg perlu periksa tapi juga gadis remaja juga wajib (terutama untuk mendeteksi kanker sejak dini).

Jadi setelah Bu Dokter melakukan pemeriksaan luar dan mulai bersiap2 melakukan pemeriksaan dalam, beliau bertanya, “Haben Sie Verkehr?”

Saya berpikir…wah baek bener Bu Dokter …kok tau kalo saya tegang terus basa basi dikit. Verkehr artinya lalu lintas. biasa juga digunakan untuk menanyakan jalanan tadi macet apa gak. Jadi dengan pede nya saya jawab, ” Oh gak macet kok, lagian saya naik bus… jadi ya gak masalah.” (soalnya kan bus ada jalur sendiri).

Nah kok saya jawab gitu Bu Dokter malah bingung ya….terus nanya lagi….”Haben Sie GESCHLECHTSVERKEHR???” sambil penekanan ke kata GESCHLECHT yg artinya jenis kelamin. Nah loh…. bingung deh saya… kok nanya jenis kelamin yah?? Kan udah jelas gitu loh…wong saya udah pake adegan buka2an dan sudah siap berposisi di kursi beliau (nyebelin yah kursi ini, rasanya posisi kita rentan sekali *para perempuan pasti mengerti maksud saya*)

Mungkin karena ngelihat kebingungan saya…plus keterangan awal bahwa saya baru saja balik ke Jerman setelah sekian lama tinggal di Indonesia…  beliau kemudian menerangkan: “Maksud saya….kamu berhubungan sex rutin atau tidak??” Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhh itu toh maksudnya heheheheheh gak nyambung…kasian deh…malu jadinya hihihihi

Keterangan: dalam bhs Jerman ada beberapa istilah untuk ML ini…ada yg contoh di atas…ada juga misalnya BEISCHLAF yg bisa juga bila diterjemahkan begitu saja artinya adalah tidur berdampingan. Yang paling gampang dipahami sih kalau di dalam kalimatnya terselip kata sex, pasti nyambung deh.  Oyah, di dokter kandungan memang biasanya kita ditanya sebelum diperiksa dalam apakah sudah sexual aktif atau belum. Megangnya beda kali yah Bu Dokter…hush :P

———

Sudah pernah di post di blog saya yg lama, berhubung sudah almarhum saya posting lagi di sini.

Hungary dan Indonesia, banyak kemiripannya.

Setelah hampir setahun saya tinggal di Budapest, saya menarik kesimpulan bahwa ternyata hidup di sini banyak miripnya dengan hidup di Indonesia. Ini pendapat saya pribadi loh. Kalau anda tidak setuju boleh protes tapi tidak boleh tersinggung. Karena ini kesan saya mengenai Indonesia (seingat saya, bisa jadi sudah berubah) dan Hungary secara umum, terlepas dari suku, agama ataupun ras masing2 penduduknya. Jadi kalau baca ini jadi tersinggung mendingan ditutup aja browsernya, ok? Awas tulisan lumayan panjang, jangan kaget.

1. Macet dan rambu2 lalu lintas yg fleksibel

Di Budapest jam berangkat dan pulang kerja selalu macet, tidak separah Jakarta, tapi lumayan lah kadang jalan yg biasanya 15 menit bisa sejam. Sebetulnya- tidak seperti di Indonesia- angkutan umum di sini bagus jaringannya dan banyak. Memang sih bus dan metronya banyak yg sudah layak masuk museum, tapi selama masih jalan dan tidak perlu menunggu lama, ok buat saya. Walaupun kadang naik bus bisa juga terlambat karena ada saja mobil di saat macet nekat jalan di jalur bus. Untungnya banyak supir bus yg nekat juga itu mobil disruduk dari belakang, gila bener. Oh ya, naik bus di sini harus pegangan yang kenceng karena sopirnya sering rem mendadak, bahaya banget. Bukan hanya bus saja sebetulnya, tram maupun metro sama saja, para supir entah mengapa suka rem mendadak. Rambu2 lalu lintas juga sering tidak diperhatikan di sini. Di depan sekolah Amara (pinggir jalan dua arah) saya sering lihat para ortu yang datang dari arah berlawanan dengan santainya menyeberang jalan untuk berhenti di depan sekolah, kadang miring bagian depan mobil naik trotoar tanpa memperdulikan banyak anak sedang jalan ke arah sekolah. Setelah itu dengan santainya putar balik menutup jalan bikin macet karena dari dua arah mobil jadi tidak bisa lewat. Pihak sekolah sudah pasang tulisan macam2 di sekolah/pagar agar para ortu tidak sembarangan berhenti tapi tetap nekat. Minggu lalu saya lihat tiap pagi ada polisi mengatur lalu lintas dan para ortu yang parkir sembarangan diberi hadiah surat tilang. Dan hari Senin lalu murid2 bawa pulang surat dari sekolah isinya mengenai peraturan lalu lintas yg dikeluarkan pihak kepolisian. Itu satu contoh di sekolah Amara, belum lagi kecelakaan hampir setiap minggu di perempatan dekat rumah, bisa jadi novel nanti. Yang paling parah dan berbahaya menurut saya adalah pengabaian lampu merah terutama di jalan kecil. Jadi hati2 terutama bila menyeberang jalan, walaupun sudah hijau bukan jaminan kendaraan akan berhenti (makanya butuh waktu lama untuk saya berani melepas Amara berangkat sendiri ke sekolah). Di sisi lain saya sering lihat nenek2 menyeberang dengan santai walaupun lampu merah tanpa banyak noleh kanan kiri, mungkin dengan asumsi siapa yg tega menabrak seorang nenek tua?

2.Penampilan itu penting

Saya pernah tanya ke rekan kerja si V, kenapa kok tetap naik mobil pribadi tiap pagi padahal kantor kan terletak di pusat kota, deket stasiun KA, metro, tram dan bus. Katanya karena lebih nyaman walaupun macet bisa sambil mendengarkan musik. Hmmm naik bus juga bisa kan denger musik pakai MP3 Player?  Setelah saya perhatikan mungkin karena kalau desak2an di kendaran umum takut penampilan jadi tidak rapi? Dibandingkan dengan di Frankfurt di mana orang2 pada umum penampilannya biasa2 aja dalam artian tidak  menjadi tolak ukur, di sini jauh berbeda, penampilan penting apalagi memakai barang bermerk (walaupun palsu). Buat saya orang2 di sini cakep, rapi dan sangat modis. Bagus untuk kesehatan mata, apalagi di musim panas ;) Bahkan di saat berdesak2an di metro misalnya diusahakan sambil  melindungi penampilan (susah dijelaskan dengan kata2) agar tidak lecek. Makanya walaupun krismon, salon selalu penuh apalagi mani/pedi… penuh terus dan bukan hanya perempuan yg rajin para priapun rajin pedicure. Saya sering heran dalam hal ini, karena saking jeleknya situasi ekonomi di sini bahkan di supermarket/warung sebelah dijual sayur dan buah yg sudah jelek dng harga murah dan laku (saya pernah liat timun udah kering dan mengkerut yg untuk marmutpun saya tidak tega, masih dijual). Di sini rasanya jurang antara atas dan bawah menyolok sekali, tapi ini cerita lain lagi.

Continue reading Hungary dan Indonesia, banyak kemiripannya.

Maukah kau pergi denganku?

Kalian para cowok pasti pernah ngalamin ini….rasa deg2an disaat ingin mencurahkan isi hati ke si pujaan hati :)

Di jaman telpon dan hp belum membumi seperti sekarang, mau nggak mau para cowo harus berani ngomong langsung ke si dia. Walopun tentu saja ada yang pakai cara lain, misalnya si mantan anak JB yang pemalu itu – yang ngomong2 membuktikan teori saya bahwa gondrong belum tentu sangar -…pakai surat yang dititipkan ke sahabat

Cara penyampaian juga sangat penting loh…

Ada juga yang pinter….sebelum mulai pendekatan , titip salam dulu ke dia. Bisa lewat adik atau teman2…. biasanya lewat semua orang yang kenal…jadi nantinya seluruh dunia bakalan tahu bahwa si A sedang ditaksir si B…. dari situ si cowo bisa melihat reaksi si pujaan hati….kalo ada salam balik ya berarti lampu hijau.

Pernyataan cinta lewat surat menurut saya sebenernya paling susah… karena bagaimana caranya mengekspresikan isi hati tanpa terdengar gombal? Untungnya di jaman saya masih SMP/SMA itu belum ada internet dan TV pun hanya ada TVRI. Jaman itu sandiwara radio dan lagu2 di Aneka Ria Safari sedang top2nya … di jaman teks lagu2nya Kla Project merupakan standart teks yang ada di coretan halaman belakang buku catatan kalo bosen dengerin guru di kelas … jadi kalo digombalin lewat surat rasanya gak gombal malah seneng.

Nah dengan semua pengalaman jaman dulu itu … agak lucu dan haru rasanya saat mendengar curhatan sahabat baik saya di Jerman beberapa tahun yang lalu. Sahabat saya – orang Indonesia – ini orangnya polos banget dan sedang dideketin olah cowo Jerman teman kuliahnya. Jadi ceritanya kita semua juga paham lah bahwa dia sedang pdkt ke sahabat saya ini. Cuman tentu saja si nona satu ini yg gak nyadar, berhubung si cowo ini memang jarang berduaan aja…maksudnya kalo pergi ya rame2 lah sama kita2. Si cowo ini memendam cinta ke sahabat saya ini udah tahunan loh…cuman selama ini gak pernah berani ngomong dan selalu keduluan orang lain akhirnya heheheh

Hingga pada suatu hari -katanya, kemudian, sebelum keduluan lagi- dia mengumpulkan keberaniannya…. ngajak temen saya jalan2 dan ke cafe….ambil nafas dalam2…terus tanya, “…., Willst Du mit mir gehen?” … ini kalo diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya : Maukah kau pergi denganku?

Tau gak, apa jawaban si ibu satu itu?!

“Wohin?” terjemahannya : Kemana?

Huahahahahaha kebayang gak sih gimana pucetnya si cowo…lah kok gak nyambung yah? hihihihihihi wong nembak kok dikiranya malah ngajak pergi …. kasian deh.

Tulisan hari ini didedikasikan ke sahabat saya yang akhirnya nikah sama si bule itu dan udah punya putri satu yang cantik bener….*kangen say… kapan ke Jerman lagi? Betah yah di Jakarta? Hari ini gw denger lagunya si Nena yg Willst Du mit mir gehen, jadi inget elo tuh hehehehe*

Tadinya dipublish di blog lama, saya post ulang krn nona eh nyonyah ini summer ini sudah nambah putri cantik satu lagi….gratuliere yah Cik ;) muahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

-

Bahasa Indonesia

Udah kelar baca buku-buku yg dibawain ama si Mama. Pertama langsung baca Kok Putusin Gue, karena saya sering baca blognya Ninit jadi penasaran  terus dilanjut dengan Gege mengejar Cinta (ini suaminya Ninit), terus Sihir Cinta , disambung Beauty Case dan terakhir… favorite saya Supernova – Petir nya Dee

Buku-buku karya pengarang2 muda Indonesia yg penuh bakat ini menarik sekali. Lucu….jadi inget jaman dulu kadang-kadang …

Supernova bikin penasaran..kayak Harry Potter aja..tamatnya bikin gak sabar ingin baca buku selanjutnya.

Kecuali Supernova, buku yg lain banyak sekali menyelipkan bahasa inggris…bukan hanya beberapa kata..tapi sudah beberapa kalimat… yg membuat saya jadi bertanya-tanya. Apakah di Indonesia sudah biasa ya ngomongnya nyampur dengan bahasa Inggris? Kalo cuman beberapa kata atau istilah-istilah sih udah umum ya…di Jerman juga begitu..karena banyak kata atau istilah yg susah diterjemahkan (gak ada padanan yg pas)….tapi kalo dalam konteks kalimat-kalimat panjang …saya sih belon pernah ngalamin (kuper kali atau kelamaan gak mudik ?)

Jadinya jadi ingin tahu apakah kalian kalau ngobrol dengan teman juga begitu? berbahasa Inggriskah?

Continue reading Bahasa Indonesia