Setelah hampir setahun saya tinggal di Budapest, saya menarik kesimpulan bahwa ternyata hidup di sini banyak miripnya dengan hidup di Indonesia. Ini pendapat saya pribadi loh. Kalau anda tidak setuju boleh protes tapi tidak boleh tersinggung. Karena ini kesan saya mengenai Indonesia (seingat saya, bisa jadi sudah berubah) dan Hungary secara umum, terlepas dari suku, agama ataupun ras masing2 penduduknya. Jadi kalau baca ini jadi tersinggung mendingan ditutup aja browsernya, ok? Awas tulisan lumayan panjang, jangan kaget.
1. Macet dan rambu2 lalu lintas yg fleksibel
Di Budapest jam berangkat dan pulang kerja selalu macet, tidak separah Jakarta, tapi lumayan lah kadang jalan yg biasanya 15 menit bisa sejam. Sebetulnya- tidak seperti di Indonesia- angkutan umum di sini bagus jaringannya dan banyak. Memang sih bus dan metronya banyak yg sudah layak masuk museum, tapi selama masih jalan dan tidak perlu menunggu lama, ok buat saya. Walaupun kadang naik bus bisa juga terlambat karena ada saja mobil di saat macet nekat jalan di jalur bus. Untungnya banyak supir bus yg nekat juga itu mobil disruduk dari belakang, gila bener. Oh ya, naik bus di sini harus pegangan yang kenceng karena sopirnya sering rem mendadak, bahaya banget. Bukan hanya bus saja sebetulnya, tram maupun metro sama saja, para supir entah mengapa suka rem mendadak. Rambu2 lalu lintas juga sering tidak diperhatikan di sini. Di depan sekolah Amara (pinggir jalan dua arah) saya sering lihat para ortu yang datang dari arah berlawanan dengan santainya menyeberang jalan untuk berhenti di depan sekolah, kadang miring bagian depan mobil naik trotoar tanpa memperdulikan banyak anak sedang jalan ke arah sekolah. Setelah itu dengan santainya putar balik menutup jalan bikin macet karena dari dua arah mobil jadi tidak bisa lewat. Pihak sekolah sudah pasang tulisan macam2 di sekolah/pagar agar para ortu tidak sembarangan berhenti tapi tetap nekat. Minggu lalu saya lihat tiap pagi ada polisi mengatur lalu lintas dan para ortu yang parkir sembarangan diberi hadiah surat tilang. Dan hari Senin lalu murid2 bawa pulang surat dari sekolah isinya mengenai peraturan lalu lintas yg dikeluarkan pihak kepolisian. Itu satu contoh di sekolah Amara, belum lagi kecelakaan hampir setiap minggu di perempatan dekat rumah, bisa jadi novel nanti. Yang paling parah dan berbahaya menurut saya adalah pengabaian lampu merah terutama di jalan kecil. Jadi hati2 terutama bila menyeberang jalan, walaupun sudah hijau bukan jaminan kendaraan akan berhenti (makanya butuh waktu lama untuk saya berani melepas Amara berangkat sendiri ke sekolah). Di sisi lain saya sering lihat nenek2 menyeberang dengan santai walaupun lampu merah tanpa banyak noleh kanan kiri, mungkin dengan asumsi siapa yg tega menabrak seorang nenek tua?
2.Penampilan itu penting
Saya pernah tanya ke rekan kerja si V, kenapa kok tetap naik mobil pribadi tiap pagi padahal kantor kan terletak di pusat kota, deket stasiun KA, metro, tram dan bus. Katanya karena lebih nyaman walaupun macet bisa sambil mendengarkan musik. Hmmm naik bus juga bisa kan denger musik pakai MP3 Player? Setelah saya perhatikan mungkin karena kalau desak2an di kendaran umum takut penampilan jadi tidak rapi? Dibandingkan dengan di Frankfurt di mana orang2 pada umum penampilannya biasa2 aja dalam artian tidak menjadi tolak ukur, di sini jauh berbeda, penampilan penting apalagi memakai barang bermerk (walaupun palsu). Buat saya orang2 di sini cakep, rapi dan sangat modis. Bagus untuk kesehatan mata, apalagi di musim panas
Bahkan di saat berdesak2an di metro misalnya diusahakan sambil melindungi penampilan (susah dijelaskan dengan kata2) agar tidak lecek. Makanya walaupun krismon, salon selalu penuh apalagi mani/pedi… penuh terus dan bukan hanya perempuan yg rajin para priapun rajin pedicure. Saya sering heran dalam hal ini, karena saking jeleknya situasi ekonomi di sini bahkan di supermarket/warung sebelah dijual sayur dan buah yg sudah jelek dng harga murah dan laku (saya pernah liat timun udah kering dan mengkerut yg untuk marmutpun saya tidak tega, masih dijual). Di sini rasanya jurang antara atas dan bawah menyolok sekali, tapi ini cerita lain lagi.
3. Jam Karet
Yak, tebakan Indri di FB tepat banget. Di sini jam karet juga biasa, walaupun mungkin melarnya tidak seperti di Indonesia. Tapi bisa jadi karena janjian dengan saya sama artinya seperti orang Indonesia janjian dengan ‘bule’, sungkan mungkin kalau kebangetan telatnya.
4. Lebih hormat ke ‘bule’ daripada bangsa sendiri
Oh iya, yang saya maksud ‘bule’ di sini bukan hanya orang kulit putih (atau kalo nenekku bilang orang barat) melainkan orang asing baik turis maupun expat.
Kalau sudah baca tulisanku yg ini mungkin bisa lebih mengerti maksudku. Seperti yg saya tulis di point 3 tadi, contoh yg paling sering/jelas ya masalah jam karet itu tadi. Baik orang Hungary maupun Indonesia kalau janjian dengan ‘bule’ pasti lebih mengusahakan datang tepat waktu dibandingkan dengan bila janjian dengan bangsa sendiri.
Mungkin bisa begitu karena sungkan tidak ingin nama bangsa jadi jelek atau sama2 mempunyai kesan bahwa ‘bule’ pasti kaya jadi lebih baik dibaikin siapa tau kecipratan rejeki. Yang membawa saya ke point nomer 5.
5. Semua serba lebih mahal karena toh ‘bule’ banyak duit.
Betapa seringnya saya di sini bayar jauh di atas harga normal. Mulai dari taxi, ibu2 yg bersihin apartment, tukang benerin ini itu, guru les bahasa, di salon, dll. Penyebab utama saya rasa bahasa. Saya tidak bisa bahasa sini, orang sini jarang bisa bahasa Inggris. Ataupun bila bisa, giliran saya tanya mengenai tagihan rata2 mendadak tidak bisa bahasa inggris. Bisa dimengerti (kadang2) karena di mata mereka toh saya bawa EURO yg nilainya jauh di atas mata uang lokal. Kadang2 saya biarkan saja, tapi kadang saya ngeyel. Bukan karena uangnya (ya itu juga sih) tapi ini masalah prinsip. Terutama urusan tagihan air, listrik dan gas yang tidak jelas. Setelah membandingkan dengan para expat yg lain, ternyata saya tidak sendiri dalam hal ini. Akhirnya ini saya ikhlaskan saja daripada senewen lebih baik menikmati hidup, anggap aja amal.
6. Iya belum tentu berarti iya
Misalnya ajakan untuk bertemu atau telponan, bisa jadi iya nya tuh iya basa basi saja. Atau kalau misalnya saya menerangkan sesuatu kemudian saya tanya:Mengerti kan maksud saya? Jawaban biasanya iya, padahal sebetulnya tidak mengerti tapi malu mengakui dan malu bertanya. Atau misalnya yang punya rumah janji mau betulin heater, bilang iya nanti…nantinya bisa 2 bulan lagi, itupun karena saya telpon terus. Dan masih banyak lah contohnya, setelah tanya2 expat lain ternyata itu bukan hanya perasaan saya saja, tapi memang begitu. Saya jadi ingat dulu suka bercanda sama teman yg sering bilang iya besok…ini besok bener apa besok Jawa nih? Besok (sesuk) di Jogja artinya luas…belum tentu maksudnya besok tapi bisa minggu depan, bulan depan, tahun depan atau kapan2.
Sebetulnya masih ada banyak….misalnya masih banyak pasar tradisional, keluarga masih penting di sini, dll tapi ini sudah panjang, kapan2 dilanjutkan lagi. Yang jelas sih buat saya tinggal di Budapest rasanya tidak jauh bedanya dengan di Indonesia
7 Responses to Hungary dan Indonesia, banyak kemiripannya.
iman
November 18th, 2009 at 3:35 PM
bu ayuuuu…….
baguuuuuuusssss…… (maksudnya tulisannya bagus,.. bukan middle name nya ayu-bagus )
makasih makasih ………..
mindy
November 18th, 2009 at 11:56 PM
berarti seperti disini juga. yang ga sama itu no. 5 dan 6. penampilan disini PENTING BANGET, sepertinya ngalahin orang Indonesia. standart cantik disini: dada besar, rambut seperti pulang dari salon, kuku jari panjang² dan berpoles – kadang² pengen gw gunting dweh itu kukunya, abis panjang banget dan bikin kerja jadi makin lelet hihii – hak tinggi. baru² aja disini in sendal² teplek, tadinya ga ada, terus juga semua baju dan aksesori kudu mecing surecing krincing.
yang ga sama seperti di Indonesia, orang sini kerjanya ga efisien dan lelet dan kadang sie können nicht mitdenken. Service ist gleich null – ada sih yg Kundenoriented tapi itu jarang banget.
ah udah ah, panjang bener nih komennya.. melu akyu hihi
Ayu
November 19th, 2009 at 12:21 AM
danke mindy…sharing aja, menarik banget banding2in negara lain sama indonesia…itu sebenernya masih banyak lagi list yg ada di kepala…cuman udah panjang postingannya nanti jadi novel malahan
rudiyanto
November 20th, 2009 at 2:30 AM
Masih ada satu benar atau tidak, yaitu banyaknya pelacur di pinggir jalan kayak di Ceko
santi wijaya
November 20th, 2009 at 3:34 AM
wuihh…postingannya ok tuh yu….bersambung ya..kpn2 dilanjutin …N klo blh ikt komen;stlh dipikir2 betul jg tuh,banyak miripnya…..point 5 itu aplg…di sini gak mesti ke bule tp ke org “asing”(mksdnya bukan org daerahnya)pasti pasang harga lbh mahal…mis.org jogja di bali ato di daerah lain pasti kena tarif lbh tinggi…he2…trus point 6 tuh…”jowo” bgt yuu….pekewuh gitu….he2..
Ayu
November 20th, 2009 at 8:55 PM
@Ko Rudi: pelacur pinggir jalan masih banyak tp kan aku posting kemiripan Hungary dng Indonesia
@Santi.makasih yah..nanti kapan2 ta lanjutkan, daftarnya lumayan panjang kok hihihihi
@Mindy:tau gak say, gw tadi belanja kasirnya kukunya panjang bgt…sampe dia gak bisa buka gulungan duit receh tuh…adoh lama banget jadi nunggu duit kembalian ….
luhursatya
February 20th, 2010 at 10:59 AM
makasih ya, udah berbagi ttg hungary.. kapan2 rini bisa bikin novel beneran sptnya..