Life is not fair!

12 Dec
2009

Yes yes…that was what my 8 year old daugher told me today (again!) regarding sleeping alone policy.And I had to laugh to this argument : “Why do I have to sleep alone? I’m only a kid! You are an adult and you sleep with papi together!!”

When hubby told her: “Yes because we are married.” She answered: “So? I’m your daughter! I used to sleep with you all the time and suddenly I have to sleep alone because I’m bigger? What about you? You are much bigger than I am…. Life is so unfair!!”

Yes yes little darling…life is sometimes unfair… but what can I say, it is what it is.

ps. she actually enjoy her room and her ‘I am not a kid anymore therefor I can of course sleep alone’ space, but there are also times when she suddenly wants to sleep with us (I call it cuddling time) but lately I think she is getting used to this and she comes to us almost everynight.

After we tried a few places to no avail which led us to home made pizzas for a while, finally we found two places in district VI with good pizzas.

1. Ristorante Italiano Da Pippo

At Andrassy Street 76. This is the best pizza we tried in Budapest. No further explanation needed!

2. Pizza Marzano

There are four of them in Budapest in Pest and also Buda sides. We go to the one on Andrassy Street. What we love the most here is the service which is excellent (if you live here you know what rarity that is). The pizzas are good with reasonable prices. They also have delivery service with minimal delivery time, but it could be because we live just around the corner. I was only once a little bit dissapointed when I ordered a bruschetta but got something else. But it was my fault, really, I didn’t read the description which was: baked dough brusched with garlic butter. Lesson learned, do not take food in Budapest for granted, always, ALWAYS read the description!

3. Noa Bistro Bar Restaurant

Located near Nyugati station, they have various international cuisines and a small pizza menu. But small selection notwithstanding, the pizzas are good and the prices are reasonable (between 1250 HUF  – 1750 HUF) . I prefer to order a take away because the service here is not good and strangely if you eat in the restaurant you have wait quite longer for your food as opposed take away delivery. They don’t offer delivery service.

At the moment I can only recommend this two restaurants, if I discover another one I will update this post of course.Enjoy your pizza.

ps.

What I DO NOT recommend is this pizza delivery from Don Pepe. We tried once because you see them everywhere in the city, you’d think they’re good right? And we were badly disappointed. One hour delivery time, the pizza dough was so flat and warm almost cold. I don’t know what kind of mozarella cheese they used but definitely didn’t taste like mozarella.

Hungarian – English

19 Nov
2009

travel

leaving

bus

signs on buses taken with my mobile

saesonal

on the window of a shop at Váci Utca, Budapest

Umur saya 17 tahun ketika saya berkunjung ke dokter kandungan untuk pertama kalinya. Di Jerman bukan hanya ibu2 saja yg perlu periksa tapi juga gadis remaja juga wajib (terutama untuk mendeteksi kanker sejak dini).

Jadi setelah Bu Dokter melakukan pemeriksaan luar dan mulai bersiap2 melakukan pemeriksaan dalam, beliau bertanya, “Haben Sie Verkehr?”

Saya berpikir…wah baek bener Bu Dokter …kok tau kalo saya tegang terus basa basi dikit. Verkehr artinya lalu lintas. biasa juga digunakan untuk menanyakan jalanan tadi macet apa gak. Jadi dengan pede nya saya jawab, ” Oh gak macet kok, lagian saya naik bus… jadi ya gak masalah.” (soalnya kan bus ada jalur sendiri).

Nah kok saya jawab gitu Bu Dokter malah bingung ya….terus nanya lagi….”Haben Sie GESCHLECHTSVERKEHR???” sambil penekanan ke kata GESCHLECHT yg artinya jenis kelamin. Nah loh…. bingung deh saya… kok nanya jenis kelamin yah?? Kan udah jelas gitu loh…wong saya udah pake adegan buka2an dan sudah siap berposisi di kursi beliau (nyebelin yah kursi ini, rasanya posisi kita rentan sekali *para perempuan pasti mengerti maksud saya*)

Mungkin karena ngelihat kebingungan saya…plus keterangan awal bahwa saya baru saja balik ke Jerman setelah sekian lama tinggal di Indonesia…  beliau kemudian menerangkan: “Maksud saya….kamu berhubungan sex rutin atau tidak??” Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhh itu toh maksudnya heheheheheh gak nyambung…kasian deh…malu jadinya hihihihi

Keterangan: dalam bhs Jerman ada beberapa istilah untuk ML ini…ada yg contoh di atas…ada juga misalnya BEISCHLAF yg bisa juga bila diterjemahkan begitu saja artinya adalah tidur berdampingan. Yang paling gampang dipahami sih kalau di dalam kalimatnya terselip kata sex, pasti nyambung deh.  Oyah, di dokter kandungan memang biasanya kita ditanya sebelum diperiksa dalam apakah sudah sexual aktif atau belum. Megangnya beda kali yah Bu Dokter…hush :P

———

Sudah pernah di post di blog saya yg lama, berhubung sudah almarhum saya posting lagi di sini.

Setelah hampir setahun saya tinggal di Budapest, saya menarik kesimpulan bahwa ternyata hidup di sini banyak miripnya dengan hidup di Indonesia. Ini pendapat saya pribadi loh. Kalau anda tidak setuju boleh protes tapi tidak boleh tersinggung. Karena ini kesan saya mengenai Indonesia (seingat saya, bisa jadi sudah berubah) dan Hungary secara umum, terlepas dari suku, agama ataupun ras masing2 penduduknya. Jadi kalau baca ini jadi tersinggung mendingan ditutup aja browsernya, ok? Awas tulisan lumayan panjang, jangan kaget.

1. Macet dan rambu2 lalu lintas yg fleksibel

Di Budapest jam berangkat dan pulang kerja selalu macet, tidak separah Jakarta, tapi lumayan lah kadang jalan yg biasanya 15 menit bisa sejam. Sebetulnya- tidak seperti di Indonesia- angkutan umum di sini bagus jaringannya dan banyak. Memang sih bus dan metronya banyak yg sudah layak masuk museum, tapi selama masih jalan dan tidak perlu menunggu lama, ok buat saya. Walaupun kadang naik bus bisa juga terlambat karena ada saja mobil di saat macet nekat jalan di jalur bus. Untungnya banyak supir bus yg nekat juga itu mobil disruduk dari belakang, gila bener. Oh ya, naik bus di sini harus pegangan yang kenceng karena sopirnya sering rem mendadak, bahaya banget. Bukan hanya bus saja sebetulnya, tram maupun metro sama saja, para supir entah mengapa suka rem mendadak. Rambu2 lalu lintas juga sering tidak diperhatikan di sini. Di depan sekolah Amara (pinggir jalan dua arah) saya sering lihat para ortu yang datang dari arah berlawanan dengan santainya menyeberang jalan untuk berhenti di depan sekolah, kadang miring bagian depan mobil naik trotoar tanpa memperdulikan banyak anak sedang jalan ke arah sekolah. Setelah itu dengan santainya putar balik menutup jalan bikin macet karena dari dua arah mobil jadi tidak bisa lewat. Pihak sekolah sudah pasang tulisan macam2 di sekolah/pagar agar para ortu tidak sembarangan berhenti tapi tetap nekat. Minggu lalu saya lihat tiap pagi ada polisi mengatur lalu lintas dan para ortu yang parkir sembarangan diberi hadiah surat tilang. Dan hari Senin lalu murid2 bawa pulang surat dari sekolah isinya mengenai peraturan lalu lintas yg dikeluarkan pihak kepolisian. Itu satu contoh di sekolah Amara, belum lagi kecelakaan hampir setiap minggu di perempatan dekat rumah, bisa jadi novel nanti. Yang paling parah dan berbahaya menurut saya adalah pengabaian lampu merah terutama di jalan kecil. Jadi hati2 terutama bila menyeberang jalan, walaupun sudah hijau bukan jaminan kendaraan akan berhenti (makanya butuh waktu lama untuk saya berani melepas Amara berangkat sendiri ke sekolah). Di sisi lain saya sering lihat nenek2 menyeberang dengan santai walaupun lampu merah tanpa banyak noleh kanan kiri, mungkin dengan asumsi siapa yg tega menabrak seorang nenek tua?

2.Penampilan itu penting

Saya pernah tanya ke rekan kerja si V, kenapa kok tetap naik mobil pribadi tiap pagi padahal kantor kan terletak di pusat kota, deket stasiun KA, metro, tram dan bus. Katanya karena lebih nyaman walaupun macet bisa sambil mendengarkan musik. Hmmm naik bus juga bisa kan denger musik pakai MP3 Player?  Setelah saya perhatikan mungkin karena kalau desak2an di kendaran umum takut penampilan jadi tidak rapi? Dibandingkan dengan di Frankfurt di mana orang2 pada umum penampilannya biasa2 aja dalam artian tidak  menjadi tolak ukur, di sini jauh berbeda, penampilan penting apalagi memakai barang bermerk (walaupun palsu). Buat saya orang2 di sini cakep, rapi dan sangat modis. Bagus untuk kesehatan mata, apalagi di musim panas ;) Bahkan di saat berdesak2an di metro misalnya diusahakan sambil  melindungi penampilan (susah dijelaskan dengan kata2) agar tidak lecek. Makanya walaupun krismon, salon selalu penuh apalagi mani/pedi… penuh terus dan bukan hanya perempuan yg rajin para priapun rajin pedicure. Saya sering heran dalam hal ini, karena saking jeleknya situasi ekonomi di sini bahkan di supermarket/warung sebelah dijual sayur dan buah yg sudah jelek dng harga murah dan laku (saya pernah liat timun udah kering dan mengkerut yg untuk marmutpun saya tidak tega, masih dijual). Di sini rasanya jurang antara atas dan bawah menyolok sekali, tapi ini cerita lain lagi.

Read the rest of this entry »

top