Sebelum meneruskan membaca, ini tulisan hasil pengamatan pribadi saya dari lingkungan sekitar saya…. jadi bukan saya bilang bahwa semua orang Indonesia seperti ini loh.
Kemarin presiden Jerman mengundurkan diri karena merasa tidak dihargai atau tidak ada respek terhadap beliau sehubungan dengan banyaknya kritik atas wawancara yang menurut beliau disalah artikan. Untuk selengkapnya silakan google sendiri. Berita ini membuat saya teringat akan suatu kejadian yg saya alami beberapa tahun yang lalu. Berhubungan juga dengan rasa kurang dihargai atau tidak ada respek ini.
Waktu itu saya aktif di beberapa organisasi/perkumpulan orang Indonesia di kota tempat tinggal saya yang dulu. Selama hanya ikut ngumpul saja memang tidak bisa melihat betapa menjadi pengurus itu menyita waktu dan tenaga, karena di setiap acara kelihatannya santai dan asik saja. Ternyata setelah jadi pengurus baru berasa bahwa yang bikin capek sebetulnya ya menanggapi kritik-kritik tersebut. Bukannya saya tidak terima dikritik loh ya, justru diterima dengan tangan terbuka kok asal caranya betul. Bicara langsung ke saya dengan baik dan sopan bukan memaki-maki. Biasanya saya menanggapi kritik ya buat saya saja, artinya ya didengarkan dan disimpan untuk perbaikan di acara yg kemudian. Kritik yg saya dengar dari orang ketiga biasanya saya dengar tapi saya abaikan saja, karena saya paling malas menanggapi berita yg ‘katanya’ si A si B. Dan karena saya menerima kritik dengan terbuka tentunya saya juga tidak segan mengkritik atau menegur yg lain apabila ada hal yang tidak benar.
Ternyata strategi atau cara saya ini salah besar. Mungkin karena saya dari dulu lebih banyak bergaul dengan kaum pria yang perasaannya tidak terlalu sensitif seperti (katanya) kami kaum perempuan, jadi saya terbiasa untuk berkonfrontasi secara langsung tanpa banyak basa basi, biasanya setelah berbicara langsung masalah selesai. Tapi di sini ternyata tidak bisa begitu. Sebagian besar masukan saya dengar dari orang ketiga. Karena saya tidak menanggapi buntutnya jadi panjang, padahal saya tidak menanggapi justru maksudnya supaya tidak berbuntut panjang. Tapi saya melupakan power atau kekuatan gosip!
Panjang ceritanya tapi pada intinya kecapekan terbesar menjadi pengurus adalah mengurusi hal-hal (yang menurut saya) tidak penting. Nah, apa hubungan semua ini dengan rasa terimakasih? Hubungannya besar sekali. Orang hanya sibuk mengkritik hal-hal yg tidak penting misalnya cara saya berbicara yang dianggap ‘nyelekit’ atau tidak hormat ke orang yang lebih tua (kenapa orang yg lebih tua boleh memaki dan kita yg lebih muda tidak boleh bicara terus terang – walaupun dengan sopan- karena itu kurang ajar, hal ini sampai sekarang masih merupakan misteri buat saya) sehingga melupakan bahwa dibalik semua itu saya tetap bekerja menyelesaikan tugas-tugas dengan sukarela tanpa dibayar.
Bukannya saya ingin dipuji, tapi secara manusiawi ada rasa ingin dihargai. Dan itu yang saya sama sekali tidak rasakan. Rasa terimakasih jarang ada. Ya tentu saja orang Indonesia sering sekali bilang makasih yah, tapi saya rasa itu hanya sekedar ucapan di mulut saja bukan tulus dari hati. Karena buat orang Indonesia banyak hal yang memang ya sudah seharusnya saya/kami kerjakan…bahwa itu memang tugas kita jadi ya itu bukan hal yg istimewa kalau bahasa Inggrisnya : they just take it for granted. (Apa ya ini padanannya di dalam bahasa Indonesianya?)
Kenapa saya berani menulis begini? Karena sewaktu saya pertama kali mengirimkan kartu atau email atau telpon ucapan terimakasih atas bantuan teman-teman dalam mensukseskan acara yang lewat, reaksi orang macam-macam. Ada seperti satu teman baik saya yg dari jaman kita mahasiswa selalu rajin membantu tanpa disuruh maupun dengan komando (kamu tau siapa kamu kan Ke? Ji? Clau? dkk?) reaksinya mengibaskan tangan saja, kan kita kerja sama-sama. Ada yang terharu sekali karena ternyata saya MELIHAT bahwa beliau ikut membantu, beliau pun merasakan bahwa biasanya seolah semuanya diterima saja oleh yang lain dan kemudian beliau juga berterimakasih kembali. Tapi ada juga yang aneh, bukannya senang saya mengucapkan terimakasih, eh ini malah mengomel dan menuliskan daftar kritik yang panjang lebar yang bikin emosi. Nah aneh kan?
Saya perhatikan orang Indonesia susah menerima ucapan terimakasih, biasanya jadi malu atau sungkan malahan. Mungkin ya karena budaya atau kebiasaan saling membantu jadinya ya mungkin ada rasa tidak perlu dibesar-besarkan hal yang kamu kerjakan karena toh suatu saat gantian akan ada yang membantu kamu juga?
Rasa kurang dihargai oleh orang Indonesia ini semakin terasa (kembali) saat saya pindah dari Budapest ke Köln. Walaupun saya hanya 14 bulan tinggal di sana, kumpul dengan ibu-ibu Jerman belum sampai setahun tetapi sewaktu saya datang di perkumpulan mereka untuk terakhir kalinya, ada satu orang yg berdiri ke depan mengucapkan kata-kata perpisahan untuk saya dan mereka semua patungan dan tanda tangan memberi saya satu kenang-kenangan. Saya jadi terharu, bukan karena kadonya, tapi kaget karena mereka MELIHAT apa yang saya kerjakan selama ini, padahal untuk ukuran saya itu hanya hal-hal kecil saja karena saya bukan pengurus. Tapi senang sekali rasanya karena mereka MENGHARGAI apa yang saya kerjakan selama ini. Mereka tahu bahwa apa yang saya kerjakan walaupun hanya kecil tetaplah menyita waktu dan tenaga dan patut dihargai. Bandingkan dengan ini: sebelum saya pindah ke Budapest saya (jadi ketua panitia) sempat membuat acara yang cukup besar di Jerman. Sampai hari ini -kecuali dari Pak Konjen saat itu- tidak ada satupun ucapan terimakasih yang saya terima… yang ada hanyalah kritik dan kritik.
Sayang yah? Bukankah hidup akan lebih indah apabila kita semua bisa saling terbuka dan saling menghargai? Dengan begitu tentunya kebiasaan ngomong di belakang yang bisa mengacu ke pertengkaran akan berkurang? Bukankah begitu?
7 Responses to Rasa terimakasih orang Indonesia (di sekitar saya)
Ajie
June 1st, 2010 at 7:38 PM
Yu, nanti kalo aku ditraktir….pasti bakal bilang makasih
Anyway……selama ada “perwakilan” yg bilang “terima kasih” for me it’s fair enough. So oder so gak semua pihak bisa “dipuaskan” (alah kok ngalor ngidul 3 bahasa gini)
Ayu
June 1st, 2010 at 7:42 PM
hihihihi kamu tau lah yang saya maksud… supaya jangan semua itu selalu selbstverständlich (opo toh boso Indonesiane? dari tadi pagi mikir2 kok gak ada nemu kalimat yg pas), sudah semestinya? sudah sewajarnya? hehehe makasih yah udah mampir
dina
June 7th, 2010 at 7:43 AM
Salam kenal mba
, tipikal orang emang macem2 ketika dikritik, dinasehati, ato dapet sanjungan, jadi emang perlakuaanya beda2 juga, begitu sih yg saya amati
Vonny Ablett
June 9th, 2010 at 1:01 AM
Pagi mbak Ayu,..
thanks atas sharingnya.
Aku setuju banget! Tidak ada salahnya jika kita bisa menghargai pemberian orang lain walaupun mungkin tidaklah besar. Yang kadang membuat aku ngilu adalah betapa susahnya kadang buat kita untuk sekedar mengucapkan “terimakasih” kepada orang lain.
Salam untuk keluarga dari Sydney.
Yessi
June 16th, 2010 at 3:20 AM
yap! betul sekali! saya paling gerah dengan orang yang sukanya ngomong di belakang, tapi di depan bermanis-manis. kenapa si ga jujur dan terbuka aja?
nah lho kok malah curhat…heheheh
salam kenal mb ayu
Sylvia,Jake and Matt
January 17th, 2011 at 11:27 PM
Salam kenal, aku blogwalking cari resipe steam bun. Thanks for posting the recipe, I really can’t wait to make the bun.
YNa
June 1st, 2011 at 5:08 AM
alo mba Ayu, apa kabar? jumpa lagi dgn saya.. *hihi.. apa sih
*
. Saya setuju, kadang mereka hnya mempermasalahkan hal2 kecil. Lucu memang hehe..
mba, spt-nya jabatan ‘pemimpin’ di Indonesia adl posisi yg diidamkan setiap orang. berbagai cara dilakukan. jd klo orang lain yg jd pemimpin, ada rasa iri dan ga terima. adanya dikritik mulu, salah mulu tanpa ‘mau’ lihat bagaimana kerjanya
anyway busway, tetap smangat berbuat yg terbaik ya.. *muach!*